Hello,This is me!

Farid Zulfa

Never underestimate the power of dreams We are all the same the potential for greatness lives within each of us

About me

Hello

I'mFarid Zulfa

Environmental Engineering Student

Hidup penuh tantangan. Namun, keluarga cukup bagiku memberikan sandaran dalam setiap persoalan yang ada. Dan karena keluarga Saya berusaha untuk belajar ilmu yang lebih penting dari ilmu akdemik, ilmu itu adalah ilmu kehidupan. Sedikit ilmu kehidupan yang kudapat adalah anggapan bahwa semua orang penting, semua orang berambisi, dan semua orang ingin diakui. Semua orang memiliki pemikiran sendiri-sendiri dan setiap tindak yang dilakukan hanya karena dua hal, pertama nafsu dan yang kedua ambisi. Berusaha mementingkan diri dan mengagungkan diri hanya akan meninggalkan orang-orang yang seharusnya akan mengisi hidup menjauhi kehidupan. Cukup dengan kasih, saling menyayangi serta sedikit pujian tulus, orang lain pun akan membalasnya. Itulah yang ingin kupelajari sekarang. karena hidup adalah tentang kasih dan sayang sesama manusia bukan yang lain.

harus tau

Change Your Life

"Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan" - Albert Einstein "Temukan diri Anda dan jadilah diri sendiri. Ingat, tak seorang pun seperti Anda di dunia ini" - Dale Carnegie "Mereka harus sering berubah, Siapa yang ingin bahagia?" - Konfusius "Sikap kitalah yang memungkinkan kita melihat kesulitan sebagai pelajaran atau peluang dan tantangan, bukan kemunduran" - Julia Cameron "Sumber Cinta berada jauh dalam diri kita" - Thich Nhat Hanh "Kita mengajar orang lain dengan cara yang sama dengan kita ingin memperlakukan kita" - Lynda Field

HAPPY

Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Berfikir untuk mengambil dan berusaha mendapatkan segalanya adalah sebuah keniscayaan. mencari sesuatu yang lain akan melepaskan sesuatu yang telah di dapat. Prioritaskan hidupmu pada sesuatu yang kamu harapkan, dan sampai titik terendah hidupmu pun kamu masih ingin dan dapat melakukannya. dunia ini luas, miliaran orang ada bersama kita. peganglah satu tugasmu dan kembangkanlah. maka kelak kamu akan menjadi orang yang berguna bagi orang banyak.

HMM

"Air susu dibalas dengan air tuba. jujur, Saya sama sekali tidak percaya dengan kata kiasan tersebut. yang saya percaya Air susu yang telah diberikan kelak juga akan kembali dalam wujud yang sama yaitu air susu. sedangkan, air tuba yang didapat adalah hasil balasan akibat air tuba yang telah diberikan kepada orang lain. Semua yang kita perbuat pasti akan kembali pada diri kita. maka dari itu, aku pun sedang berlatih untuk selau berusaha berfikir positif dan memberikan sesuatu yang baik-baik saja. Alam ini adalah sebuah energi. semua yang ada disekitar kita adalah energi, termasuk diri kita dan semua yang ada di fikiran kita. Semua energi akan dapat menarik energi lainnya yang ada di sekelilingnya. Maka dari itu berhati hati dalam berfikir adalah sebuah keharusan. Agama Islam telah mengajarkan untuk selalu berfikir positif. Agamapun telah menyarankan, Saya yakin dan sangat percaya jika tuntunan itu adalah hal yang beralasan. berfikir positif akan mengundang energi positif lainnya datang pada kita. hal itu pun berlaku pada pikiran negatif yang hanya akan mengundang energi negatif datang menghampiri kita. Maka dari itu, Ayo bersama kita berusaha untuk menjadi orang yang terus berfikir positif. Mungkin itu hal yang sulit. tapi banyak orang yang bisa melakukannya. Aku yakin Kita Bisa, Kita Pasti Bisa, Kita Harus Bisa...

testimonial

"Semua di alam semesta terbuat dari energi, dan energi ini menciptakan semua bentuk dan materi yang kita sebut kenyataan"

James Redfield

"Anda adalah stasiun pemancar yang bergerak dan Anda mengambil pesan secara rutin dari kelompok dan teman anda"

Sanaya Roman

"Begitu banyak hal yang tampak nyata dalam hidup kita adalah proyeksi dari pikiran kita yang kurang jernih"

Barbara de Angelis

JOHN DOE
+123-456-789
Melbourne, Australia

SEND ME A MESSAGE

Diberdayakan oleh Blogger.

Beauty

Customization

View more

Tips and Tricks

View more

Featured Documents

Tutorials

View more

Image Documents

View more

Jumat, 17 Juli 2015

KRITIK MANA LAGI ??? PART 2


Pada edisi part 2 ini saya tidak akan menggebu-ngebu mengkritik orang lain. Karena bulan  ini bulan ramadhan yang penuh berkah dan tinggal menghitung hari kita akan merayakan hari raya idul fitri. Di tulisan kali ini saya ingin lebih mengutamakan keasdaran kita terhadap sesama kita. Terutama anak /orang introvert yang selalu dipandang sebelah mata. Silakan menikmati…
Bermula ketika seorang anak introvert hidup di tengah tengah zaman yang serba ada serba canggih dan sosial media menjadi alat perluasan pergaulan. Anak itu hanya bisa membaca, mengikuti, dan menyaksikan percakapan atau status orang lain. Anak yang terkurung dalam era bebas. Ketika orang Indonesia yang serba humanis, mereka dekat antara satu sama lain justru itu yang membuat anak itu terkurung dalam kebebasan. Dia hanya mampu berharap zaman individualis terwujud. Dimana setiap orang tak memandang satu sama lain. Tak menjudge orang lain. Tapi sayang mungkin mustahil bagi anak itu apabila ia terlahir di Indonesia. Dimana semua orang sibuk memicarakan orang lain,  menilai bahkan menghina. Ya itu sekelumit kisah nyata dari seorang anak erinisial X yang hidup di sebuah kota kecil di Indonesia.       
Kali ini saya akan mengulas lagi pembahasan kita pada “KRITIK MANA LAGI PART 1”. Saya akan  memulai dengan kisah anak berinisial X diatas. Dia yang terkurung di zaman serba canggih saat ini. Ya, Indonesia mungkin bukan tempat yang cocok bagi anak anak introvert. Apakah anak introvert termasuk orang yang sakit?, menurut Saya iya, tapi mengapa kita menganggapnya seolah menjadi sampah masyarakat?, saya pernah pergi ke sebuah apotek dimana disitu adalah tempat untuk orang orang yang sedang menjalani pengoatan kejiwaan. Saya mendengar cerita dari salah seorang orang tua dari pasien yang sebenarnya adalah anaknya. Dia berkata jika anaknya dianggap sampah, diperbincangkan di masyarakat akan  kejelekannya, dia bahkan di bilang tak bisa apa apa hanya bisa menghabiskan  nasi yang ada di rumahnya, memang keluarga ini bisa saya kategorikan sebagai keluarga tak mampu. Coba, dari sekelumit kisah seseorang yang pernah saya temui itu , anda resapi. bagaimana jika keadaan ini menimpa anak anda atau bahkan menimpa anda sendiri. Ini maslah yang menurut saya menarik untuk kita bahas, untuk kita sadari dan untuk kita pelajari bagaimana untuk menghargai orang lain. Maka dari itu saya mengulasnya dalam edisi “KRITIK MANA LAGI PART 2” ini.   
Budaya orang kita telah menuntut semua orang untuk humanis terhadap sesama. Yang bagus semakin menarik dan yang buruk semakin ditindas. Seolah tak ada tempat bagi anak anak introvert. Disini saya tak menganggap introvert seagai anak atau orang yang gila. Tapi seseorang yang tak dapat menikmati hidupnya dimana saja dan kapan saja. Mereka yang tertutup dari kehidupan social dan mengurung diri sebisa mungkin untuk menghindari manusia. Karena mereka takut akan manusia, mereka takut pada makhluk dan wujud yang sama dengan dirinya.   
Kita seharusnya sadar kita terlalu sombong mengagungkan diri sendiri tak bisa menghargai hak anak anak introvert yang ingin bebas dari belenggu kecemasan mereka. Anak anak introvert ini hidup dalam kecemasan mungkin ini merupakan penyakit yang menurun dari orang tuanya atau bahkan akibat dari ketidak sanggupan anak dalam menerima budaya baru yang berjalan dengan sangat cepat. Kita kembali kepada pokok bahasan kita kali ini yaitu introvert. Kita terlalu menjelek njelekan mereka, menganggap diri mereka lebih buruk bahkan menganggap mereka adalah orang orang yang aneh. Jujur saya sangat miris dengan hal itu. Coba jujur saja pada diri anda. Pasti anda pernah memperbicarakan anak introvert entah itu saudara anda, teman anda, rekan kerja anda, atau mungkin orang yang sama sekali anda tak kenal. Jujur saja pasti anda pernah melakukannya. Tapi apakah kita sadar kita telah menghancurkan masa depan anak itu. Memuat dirinya merasa tak berharga dimata orang lain, mengatakannya sombong padahal karena mereka sendiri yang tak dapat menikmati sosial mereka. Dengan sekelumit ulasan saya ini. Yuk kita lebih bisa menghormati orang lain bukan hanya orang orang introvert. Tapi semua orang yang ada disekeliling kita. Jangan kita menjelek njelekkan mereka. Karena saya percaya akan hukum karma dimana seorang yang menjelek njelekkan orang lain pasti dia akan dijelek jeleki entah itu akan dirasakan pada dirinya atau keturunannya.    
Mungkin artikel ini tak sesuai dengan judulnya. Tapi tak apalah ini hanya sekedar tulisan yang ingin saya sampaikan ke orang banyak. Bahwa orang introvert bukanlah orang pinggiran yang bisa kita lihat sebelah mata. Karena mereka punya potensi besar membangun negeri ini jauh lebih baik lagi jika mereka bisa terlepas dari perasaan introvertnya itu. Mungkin tulisan ini sama sekali tak  berbobot karena Saya menyesuaikan dengan bacaan yang cocok pada bulan ramadhan ini. Tapi silakan baca KRITIK MANA LAGI part selanjutnya. Terima kasih telah mengunjungi blog saya.

Jumat, 10 Juli 2015

KRITIK MANA LAGI ??? PART 1


Saya bukanlah siapa siapa, saya hanya seorang anak yang berusaha mencoba kritis dari apa yang ada di sekitar saya. Saya mencoba untuk peka terhadap realita yang ada. Dari berbagai pemberitaan di berbagai media saya ingin menguraikan sedikit pendapat saya atau pemahaman saya terhadap apa yang terjadi disekeliling kita. 
Saya mulai dari seluk beluk masyarakat Indonesia, Negara kita tercinta. Saya sangat cinta Indonesia. Saya tak punya niatan untuk menjelek-njeleki apa yang terjadi di Indonesia entah itu politik maupun budaya orang-orang kita. Tetapi saya ingin menyampaikan dari apa yang saya saksikan. Dari mulai hal yang sederhana, apa kita merasa kalau kita termasuk orang-orang yang munafik. Didepan menjadi teman dielakang menjadi musuh. Itu sudah menjadi budaya kita bukan. Coba anda resapi sendiri pernah anda menjelek-njelekkan teman anda di depan teman anda yang lain. Dan menjadi teman ketika di depan teman itu. Sudah terlalu biasa. Lalu orang yang selalu ingin menjadi lebih dipandang orang lain, bukannya berusaha membangun negeri. Ya memang, awalnya punya niatan yang tinggi untuk mengagungkan negeri ini. Tapi ketika mendapat apa yang kita mau kita lantas lupa apa tujuan kita sebenarnya. Lihat saja para anggota DPR. Saya yakin mereka memang orang orang pintar sekaligus BERUNTUNG. Tapi saya yakin mereka memiliki satu niat utama menjadi anggota DPR, apa itu??? Ya, harkat, martabat, dan derajat diri sendiri dan keluarga. Kalau kita logika, coba renungkan. Sudah sejak 1945 kita merdeka, hitung berapa lama kita sudah bebas. Tapi nyatanya, kita masih digolongkan Negara bawah meski kita terkadang digolongkan Negara menengah yang sedang berkembang. Yuk kita lihat Singapura, mungkin kalau dilihat dari luasnya tidak imbang, yuk kita lihat Thailand atau Malaysia, mungkin luas mereka jauh lebih kecil tapi setidaknya jauh lebih besar dari Singapura. Kita lihat kedua Negara itu, masyarakatnya dan negaranya leih makmur daripada kita. kita seharusnya sadar bukan maksud saya untuk menggurui anda. Tapi ayolah jangan cuma omong kosong belaka berkata aku cinta Indonesia seolah menggebu ingin membangun negeri ini tapi sikap dan mindset kita hanya untuk seperti yang diatas, ingin diagungkan dan dipuji, bukan untuk membangun negeri.
Orang kita senangnya iri, melihat ada yang makmur sedikit demo. Melihat ada yang senang sedikit demo. Coba yuk resapi. SADAR DIRI. Kenapa ngga bisa makmur kaya mereka?, kenapa Cuma jadi buruh? Yang bisanya meronta ronta tak tau malu. Katanya kami sengsara, kami tak diperlakukan manusiawi. Gaji kita tak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari kami. Ya iyalah… makanya nggak usah hedonis Cuma jadi buruh tapi gayanya ingin menyaingi orang proletar… bukannya saya mengejek tapi saya geram. Untuk hidup sederhana saja apa perlu menuntut uang koran, uang parfum, uang pulsa, dll. Terlalu berlebihan menurut saya. Sarjana saja yang pengangguran banyak sekali, mereka menjadi karyawan sederhana juga sudah cukup. Sedangkan buruh yang notabene bukan golongan terpelajar kok menuntut lebih dari seorang Sarjana.  
Dan untuk calon sarjana Saya juga ingin memberi kritik kepada kalian. yaitu mahasiswa mahasiswi yang suka berdemo. Coba, kalian berdemo. Kalian bisa buat apa? Selama demo malah kaya ayam keracunan. Justru orang sepert gini yang merusak negeri. Lebih baik zaman soeharto. biar mulut mahasiswa diplester semua. Kalo bisa penjara seumur hidup atau mungkin kaya dulu lagi apa itu??? Yap bunuh. Itu solusi tepat… biar mereka jera, biar ngga seenaknya, biar ngga liar. Pendapat si bisa diutarakan. Tapi ngga bisa anarkis juga dong. Demo apa tawurannn. Kita bisa kan menggunakan perantara polisi atau lemaga pengadilan untuk memantau para petinggi kita.
Tapi polisi juga salah. Yuk mari polisi Saya juga ingin memberi kalian kritik. …ngapain ngasih tilang kalo duit disakuin???. Gaji kurang atau apa?. Kerjanya gimana si. Setiap tilangan pasti minta duit. Setiap akhir bulan langsung adain razia motor. Trus kumpulin  duit. Lalu kantongin duitnya. Malemnya karaokean… iya kan. Itu terjadi di daerah saya. Saya heran luar biasa. Lihat karaokean banyak mobil polisi dikira mau razia psk atau miras. Ternyata ikut karaokean juga. Maaf ya kalau saya menulis secara fullgar. Saya menulis ini bukan untuk polisi secara umum. Saya salut terhadap kinerja polisi yang memang benar benar mengabdi pada Negara. Tulisan ini hanya untuk mengkritisi polisi polisi seperti yang diatas… semoga cepat sadar diri, dan kembali ke jalan yang benar. Sudah mahal mahal biaya pendidikannya, seleksinya ketat pula. Akhirnya justru merusak citra pengabdi Negara. Coba lihat saingan kalian, TENTARA. Mereka yang bekerja di lapangan tapi kalian yang dapat duitnya. Mereka yang loyal pada Negara harus menjadi contoh. Pengabdian yang tinggi, sigap dan yang penting tak korupsi. Sebagai contoh yang nyata pula, KPK.  Coba ya kenapa kalau KPK bermusuhan dengan polisi atau istilahnya “CICAK VERSUS BUAYA” .Mungkin banyak polisi yang mengambil uang rakyat. Tapi secara kedudukan KPK ada di bawah polisi. Bagaimana bisa KPK menjatuhi hukuman pada polisi. Seharusnya KPK disejajarkan dengan polisi. Atau bahkan KPK memiliki perlindungan hukum dari Negara bahwa mereka memiliki kewenangan untuk menghukum dan mengadili para koruptor yang sedang duduk manis di jabatan mereka di kepolisian.   
Sekian dulu PART 1 ya.  Tulisan ini saya buat bukan untuk menghina golongan manapun, atau jabatan apapun saya hanya ingin kita sama sama mengkoreksi diri masing masing untuk membuat negeri ini sejahtera, maju dan dihormati Negara lain. Walau tulisannya amburadul Saya minta maaf. Tunggu kelanjutannya PART 2 dan seterusnya .Sekian, dan terima kasih telah berkunjung. 

Breaking News

BTemplates.com

Comments

Featured

Blogroll

About

Recent Post

Popular Posts

Legal Documents

View more

Getting Started

View more