Pada edisi part 2 ini
saya tidak akan menggebu-ngebu mengkritik orang
lain. Karena bulan ini bulan ramadhan yang penuh berkah dan tinggal
menghitung hari kita akan merayakan hari raya idul fitri. Di tulisan kali ini saya
ingin lebih mengutamakan
keasdaran kita terhadap sesama kita. Terutama anak /orang introvert yang selalu
dipandang sebelah
mata. Silakan menikmati…
Bermula ketika seorang anak introvert
hidup di tengah tengah zaman yang serba ada serba canggih dan sosial media menjadi alat
perluasan pergaulan. Anak itu hanya bisa membaca, mengikuti, dan menyaksikan
percakapan atau status orang lain. Anak yang terkurung dalam era bebas. Ketika orang
Indonesia yang serba
humanis, mereka dekat antara satu sama lain justru itu yang membuat anak itu terkurung
dalam kebebasan. Dia hanya mampu berharap zaman
individualis terwujud. Dimana setiap orang tak memandang satu sama lain. Tak
menjudge orang lain. Tapi sayang mungkin mustahil bagi anak itu apabila ia terlahir di
Indonesia. Dimana semua orang sibuk memicarakan orang lain, menilai bahkan menghina. Ya itu sekelumit kisah
nyata dari seorang anak erinisial X yang hidup di sebuah kota kecil di
Indonesia.
Kali ini saya akan
mengulas lagi pembahasan
kita pada “KRITIK MANA LAGI PART 1”.
Saya akan memulai dengan kisah anak berinisial X diatas. Dia
yang terkurung di zaman serba
canggih saat ini. Ya, Indonesia mungkin bukan tempat yang cocok bagi anak anak
introvert. Apakah anak introvert termasuk orang yang sakit?, menurut Saya iya,
tapi mengapa kita menganggapnya seolah menjadi sampah masyarakat?, saya pernah
pergi ke sebuah
apotek dimana disitu adalah tempat untuk orang orang yang sedang menjalani
pengoatan kejiwaan. Saya mendengar cerita dari salah seorang orang tua dari
pasien yang sebenarnya
adalah anaknya. Dia berkata
jika anaknya dianggap sampah, diperbincangkan di masyarakat akan kejelekannya, dia bahkan di bilang tak bisa apa apa hanya bisa menghabiskan nasi yang ada di rumahnya, memang keluarga ini
bisa saya kategorikan sebagai keluarga tak
mampu. Coba,
dari sekelumit kisah seseorang yang pernah saya temui itu , anda resapi. bagaimana jika keadaan
ini menimpa anak anda atau bahkan
menimpa anda sendiri. Ini maslah yang menurut saya menarik untuk kita bahas, untuk kita sadari
dan untuk kita pelajari bagaimana
untuk
menghargai orang lain. Maka dari itu saya mengulasnya dalam edisi “KRITIK MANA
LAGI PART 2”
ini.
Budaya orang kita telah menuntut semua
orang untuk humanis terhadap sesama. Yang bagus semakin menarik dan yang buruk semakin ditindas.
Seolah tak ada tempat bagi
anak anak introvert. Disini saya tak menganggap introvert seagai anak atau
orang yang gila. Tapi seseorang yang tak dapat menikmati hidupnya dimana saja
dan kapan saja. Mereka yang tertutup dari kehidupan social dan mengurung diri
sebisa mungkin untuk
menghindari manusia. Karena mereka takut akan manusia, mereka takut pada makhluk
dan wujud yang sama dengan dirinya.
Kita seharusnya sadar
kita terlalu sombong
mengagungkan diri sendiri tak bisa
menghargai hak anak anak introvert yang ingin bebas dari belenggu kecemasan mereka. Anak anak
introvert ini hidup dalam kecemasan mungkin ini merupakan penyakit yang menurun
dari orang tuanya atau bahkan
akibat dari ketidak
sanggupan anak dalam menerima budaya
baru yang berjalan dengan sangat
cepat. Kita kembali
kepada pokok bahasan
kita kali ini yaitu introvert. Kita terlalu menjelek njelekan mereka,
menganggap diri mereka lebih
buruk bahkan menganggap mereka
adalah orang orang yang aneh. Jujur saya sangat miris dengan hal itu. Coba jujur saja pada diri
anda. Pasti anda pernah memperbicarakan
anak introvert entah itu saudara anda, teman anda, rekan kerja anda, atau
mungkin orang yang sama sekali anda tak kenal. Jujur saja pasti anda pernah
melakukannya. Tapi apakah kita sadar kita telah menghancurkan masa depan anak
itu. Memuat dirinya merasa tak berharga
dimata orang lain, mengatakannya sombong padahal karena mereka sendiri yang
tak dapat menikmati sosial mereka. Dengan sekelumit ulasan saya ini. Yuk kita
lebih bisa menghormati orang
lain bukan hanya orang orang
introvert. Tapi semua orang yang ada disekeliling kita. Jangan kita menjelek
njelekkan mereka. Karena saya percaya akan hukum karma dimana seorang yang
menjelek njelekkan orang lain pasti dia akan dijelek jeleki entah itu akan
dirasakan pada dirinya atau keturunannya.
Mungkin artikel ini tak
sesuai dengan judulnya. Tapi tak apalah ini hanya sekedar tulisan yang ingin
saya sampaikan ke orang banyak.
Bahwa orang introvert bukanlah orang pinggiran
yang bisa kita lihat sebelah mata. Karena
mereka punya potensi besar
membangun negeri ini jauh
lebih baik lagi jika mereka bisa terlepas dari
perasaan introvertnya itu. Mungkin tulisan ini sama sekali tak berbobot karena Saya menyesuaikan dengan bacaan yang cocok pada bulan
ramadhan ini. Tapi silakan baca
KRITIK MANA LAGI part selanjutnya. Terima kasih telah mengunjungi blog saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar