Saya bukanlah siapa siapa, saya hanya seorang
anak yang berusaha
mencoba kritis dari apa yang
ada di sekitar saya. Saya mencoba
untuk peka terhadap realita yang ada. Dari berbagai pemberitaan di berbagai media saya ingin menguraikan
sedikit pendapat saya atau pemahaman saya terhadap apa yang terjadi
disekeliling kita.
Saya mulai dari seluk beluk masyarakat Indonesia, Negara kita
tercinta. Saya sangat cinta Indonesia. Saya tak punya niatan untuk
menjelek-njeleki apa yang terjadi di Indonesia entah itu politik maupun budaya orang-orang kita.
Tetapi saya ingin menyampaikan dari apa yang saya saksikan. Dari mulai hal yang
sederhana, apa kita merasa kalau kita termasuk orang-orang yang munafik.
Didepan menjadi teman dielakang menjadi musuh. Itu sudah menjadi budaya kita bukan. Coba anda resapi sendiri
pernah anda menjelek-njelekkan teman anda di depan teman anda yang lain. Dan
menjadi teman ketika di depan teman itu. Sudah terlalu biasa. Lalu orang yang
selalu ingin menjadi lebih
dipandang orang lain, bukannya
berusaha membangun negeri. Ya
memang, awalnya punya niatan yang tinggi untuk mengagungkan negeri ini. Tapi
ketika mendapat apa yang kita mau kita lantas lupa apa tujuan kita sebenarnya. Lihat saja
para anggota DPR. Saya yakin mereka memang orang orang pintar sekaligus BERUNTUNG. Tapi saya
yakin mereka memiliki satu niat utama menjadi anggota DPR, apa itu??? Ya,
harkat, martabat,
dan derajat diri sendiri dan keluarga. Kalau kita logika, coba renungkan. Sudah
sejak 1945 kita merdeka, hitung berapa lama kita sudah bebas. Tapi nyatanya, kita
masih digolongkan Negara bawah
meski kita terkadang digolongkan Negara menengah yang sedang berkembang. Yuk kita lihat
Singapura, mungkin kalau dilihat dari luasnya tidak imbang, yuk kita lihat
Thailand atau Malaysia, mungkin luas mereka jauh lebih kecil tapi
setidaknya jauh lebih
besar dari Singapura.
Kita lihat kedua Negara itu, masyarakatnya dan negaranya leih makmur daripada
kita. kita seharusnya sadar bukan
maksud saya untuk menggurui anda. Tapi ayolah jangan cuma omong kosong belaka berkata aku cinta
Indonesia seolah menggebu
ingin membangun
negeri ini tapi sikap dan mindset kita hanya untuk seperti yang diatas, ingin
diagungkan dan dipuji, bukan
untuk membangun
negeri.
Orang kita senangnya iri, melihat ada yang makmur
sedikit demo. Melihat ada yang senang sedikit demo. Coba yuk resapi. SADAR
DIRI. Kenapa ngga bisa
makmur kaya mereka?, kenapa Cuma jadi buruh? Yang bisanya meronta ronta
tak tau malu. Katanya kami sengsara, kami tak diperlakukan manusiawi. Gaji kita
tak dapat mencukupi kebutuhan
sehari-hari kami. Ya iyalah… makanya nggak usah hedonis Cuma jadi buruh tapi gayanya ingin
menyaingi orang proletar… bukannya
saya mengejek tapi saya geram. Untuk hidup sederhana saja apa perlu menuntut
uang koran, uang parfum, uang pulsa, dll. Terlalu berlebihan menurut saya.
Sarjana saja yang pengangguran banyak
sekali, mereka menjadi karyawan sederhana juga sudah cukup. Sedangkan buruh
yang notabene bukan golongan terpelajar kok menuntut lebih dari seorang
Sarjana.
Dan untuk calon sarjana Saya juga ingin memberi kritik kepada
kalian. yaitu mahasiswa mahasiswi yang suka berdemo. Coba, kalian berdemo. Kalian bisa buat apa? Selama demo
malah kaya ayam keracunan. Justru orang sepert gini yang merusak negeri. Lebih baik zaman soeharto. biar mulut mahasiswa
diplester semua. Kalo bisa
penjara seumur hidup atau mungkin kaya dulu lagi apa itu??? Yap bunuh. Itu solusi tepat…
biar mereka jera, biar ngga
seenaknya, biar
ngga liar. Pendapat si bisa
diutarakan. Tapi ngga bisa
anarkis juga dong. Demo apa tawurannn. Kita bisa kan menggunakan perantara polisi
atau lemaga pengadilan untuk memantau para petinggi kita.
Tapi polisi juga salah. Yuk mari polisi Saya juga
ingin memberi
kalian kritik. …ngapain ngasih tilang kalo duit disakuin???. Gaji kurang atau
apa?. Kerjanya gimana si. Setiap tilangan pasti minta duit. Setiap akhir bulan langsung adain
razia motor. Trus kumpulin duit. Lalu
kantongin duitnya. Malemnya karaokean… iya kan. Itu terjadi di daerah saya. Saya
heran luar biasa.
Lihat karaokean banyak
mobil polisi dikira mau
razia psk atau miras. Ternyata ikut karaokean juga. Maaf ya kalau saya menulis
secara fullgar. Saya menulis ini bukan untuk polisi secara umum. Saya
salut terhadap kinerja polisi yang memang benar benar mengabdi pada Negara. Tulisan ini hanya untuk
mengkritisi polisi polisi seperti yang diatas… semoga cepat sadar diri, dan kembali ke jalan yang benar. Sudah mahal mahal
biaya pendidikannya,
seleksinya ketat pula. Akhirnya justru merusak citra pengabdi Negara. Coba lihat saingan kalian,
TENTARA. Mereka yang bekerja
di lapangan tapi kalian yang dapat duitnya. Mereka yang loyal pada Negara harus
menjadi contoh. Pengabdian
yang tinggi, sigap dan yang penting tak korupsi. Sebagai contoh yang nyata
pula, KPK. Coba ya kenapa kalau KPK bermusuhan dengan polisi
atau istilahnya “CICAK VERSUS BUAYA”
.Mungkin banyak
polisi yang mengambil
uang rakyat. Tapi secara kedudukan KPK ada di bawah polisi. Bagaimana bisa KPK menjatuhi
hukuman pada polisi. Seharusnya KPK disejajarkan dengan polisi. Atau bahkan KPK memiliki
perlindungan hukum dari Negara bahwa
mereka memiliki kewenangan untuk menghukum dan mengadili para koruptor yang
sedang duduk manis di jabatan
mereka di kepolisian.
Sekian dulu PART 1 ya. Tulisan ini saya buat bukan untuk menghina
golongan manapun, atau jabatan
apapun saya hanya ingin kita sama sama mengkoreksi diri masing masing untuk membuat negeri ini
sejahtera, maju dan dihormati Negara lain. Walau tulisannya amburadul Saya minta maaf.
Tunggu kelanjutannya PART 2 dan seterusnya .Sekian, dan terima kasih telah berkunjung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar